It'S aLL aBout me AnD my Stuff

My mother, then my mother, till the last day of my life.. Love from the first moment of my life And her concern is mine

Thursday, July 24, 2008

KAUM PRIA JUGA BISA TERINFEKSI VISRUS HPV

Waspada! Kaum Pria Bisa Juga Terinfeksi Virus HPV
Susu Kolostrum Skim Alami IgG Plus Dari Smart Naco Indonesia - Kamis, 24 Juli 2008

Friday, July 18, 2008

My Greatest Need is You

our hope in my heart is the rarest treasure

Your Name on my tongue is the sweetest word

My choicest hours

Are the hours I spend with You -

O Allah, I can't live in this world

Without remembering You -

How can I endure the next world

Without seeing Your face?

I am a stranger in Your country

And lonely among Your worshippers:

This is the substance of my complaint

In the Lucidity of a Solemn Silence

n the lucidity of a solemn silence
The night overtook those who transgressed.
Nations we conquered and others we built
As shelters for masses oppressed

Our hearts resounded with a hungry pulse
To make real what was already instilled;
And then His Will became our own
Potentiality, sought and fulfilled.

Souls that were owned by the Owner of all
Yearned to disrobe their outer attire.
Where martyrs lay sleep on the mattress of war
Haunted no more by the nightmare of fire

As 'Umar lay snoozing in the shade of a tree
The Crown of Persia was swept.
Then one of her leaders addressed you and said,
"With justice you ruled and safely you slept."

"Lie down and roll over, "O dog of Rome!"
Wrote Mu'tasim once upon a time,
In defense of your sister who called out his name-
An army prepared to punish the crime.

That was a time when men were men,
Who lived solely to die in battle
What moves you, then, but food, drink, and sleep'
(So much in common with sheep and cattle!)

Now do you hear the screams of torture
A six year old boy sent to the slaughter
Have you not seen twenty three soldiers
Each take a turn with Abdullah's daughter

Bosnia, Kashmir, Kosova, Iraq-
Meaningless slogans, "Injustice must stop!"
A billion sleepers, the dormant giant-
Til when shall the Muslims be so compliant?

Heads that prostrate to Him, the Most High
Now, by the sword, they are chopped,
While you snore in your slumber, comfy and snug,
Rock-a-bye baby on the tree top.

One more is killed, another is raped-
The Ummah drowns into a panic.
Yet only one wall divides you from them-
That great blue wall, the Atlantic

Each wave splashes forth with news of sorrow
Upon rocks as hard as your hearts.
Where death becomes life and life becomes death,
Where the dead from the living depart.

How will you fare when that Day seizes all,
As, now, you refuse to do what you can
Then be not suprised when you look down and see
The blood of Muslims on your two hands.

In Praise of the Prophet

So long as the heart doth pulsate and beat,

So long as the sun bestows light and heat,

So long as the blood thro' our veins doth flow,

So long as the mind in knowledge doth grow,

So long as the tongue retains power of speech,

So long as wise men true wisdom do teach,

The praise of God's prophet, Ahmed the best,

Shall flow from our lips and spring from our breast.


'Twas Rosul-Allah from darkness of night

Did lead us to Truth, did give to us Light,

Did point out the path, which follow'd with zest,

Leadeth to Islam and gives Peace and Rest.

Praise be to Allah! 'Twas He who did send

Ahmed Muhammed, our Prophet, our Friend.

Monday, July 14, 2008

Lebih 33.000 Orang Bunuh Diri di Jepang

Lebih dari 33.000 orang melakukan aksi bunuh diri di Jepang tahun lalu. Angka bunuh diri melampaui 30.000 jiwa dalam sepuluh tahun berturut-turut meskipun pemerintah Jepang melakukan kampanye untuk mengurangi salah satu kasus bunuh diri tertinggi di dunia itu.

Laporan yang dikeluarkan Badan Kepolisian Nasional Jepang Kamis (19/6) menunjukkan 33.093 mengakhiri hidup mereka sendiri pada tahun 2007. Angka tersebut merupakan terbesar kedua dari rekor bunuh diri yang mencapai sebesar 34.427 jiwa pada tahun 2003.

Sebagian besar alasan dari kasus bunuh diri adalah terlilit hutang, masalah keluarga, depresi serta masalah kesehatan lainnya. Terdapat lonjakan juga jumlah kasus bunuh diri yang menggunakan pemakaian gas sulfida hidrogen toksik yang dibuat dari deterjen.

Metode bunuh diri dengan deterjen atau memproduksi racun dengan perlengkapan rumah tangga ini ternyata telah menyebar melalui pesan di Internet. Polisi telah mendesak provider pelayanan internet agar menghapus instruksi untuk memproduksi gas beracun tersebut dari sejumlah situs.

Jumlah kasus bunuh diri melonjak tajam di Jepang setelah gejolak ekonomi tahun 1980an yang mengakibatkan sebagian besar warga Jepang kehilangan pekerjaan dan terlilit utang. Angka bunuh diri di kalangan mereka yang berusia 60 tahun atau lebih meningkat 9 persen menjadi sekitar 12.100 kasus tahun lalu. Sementara kasus bunuh diri pada kalangan remaja sedikit mengalami penurunan.

Mulai Januari hingga Mei 2008, hampir 520 orang melakukan aksi bunuh diri dengan menggunakan gas sulfida hidrogen. Hanya terdapat 30 kasus yang mencakup penggunaan gas tersebut pada periode yang sama pada tahun 2007.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, tingkat bunuh diri di Jepang terbilang terbesar kedua di kelompok 8 negara industri maju G8 setelah Rusia. Pada bulan Juni 2007, pemerintah Jepang berjanji mengurangi tingkat bunuh diri lebih dari 20 persen menjelang tahun 2016.

Namun, para pekerja sosial Jepang menyebut masalah ini kompleks dan memerlukan waktu untuk mencari solusinya. Perfektur Akita di Jepang utara yang merupakan wilayah dengan angka kasus bunuh diri tertinggi di Jepang dalam 13 tahun terakhir telah menjalankan program pencegahan kasus bunuh diri sejak tahun 2000.

“Kami bersyukur pemerintah memikirkan cara untuk menekan angka kasus bunuh diri, namun mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” kata Yukiko Nishihara, pendiri Pusat Pencegahan Bunuh Diri Dunia Befrienders. Kasus bunuh diri tahunan di Akita yang terdiri dari sekitar 1 juta penduduk mencapai puncaknya pada tahun 2003 dengan sekitar 520 kasus sebelum turun menjadi 420 kasus pada tahun 2007.

SMS Merah

syu tentang nomor telepon berwarna merah cukup membuat puyeng. Berita antah berantah ini muncul dan mulai ramai sekitar hari Kamis 8 Mei yang lalu. Beritanya cukup heboh meski isinya aneh dan kental aroma mistis. Toh tetap ada banyak orang yang percaya dan was-was. Paling tidak turut ‘berbaik hati’ menyampaikan pesan berantai tak bertuan ini ke mana-mana. Terbukti dengan banyaknya SMS yang masuk dan keluar terkait dengan isyu ini.

Yang belum mudeng (nyambung) dengan berita ini silakan simak 2 SMS yang beredar berikut ini:

"Kalau ada telp yang Nomor berwarna merah (0866) dan (0666) jangan diangkat karena dapat menelan jiwa. Hari ini sudah disiarkan diberita, terjadi di jakarta dan duri dan sudah terbukti. Sekarang masih di usut oleh pihak kepolisian, dugaan sementara adalah kasus pembunuhan jarak jauh melalui telepon genggam (HP) oleh dukun ilmu hitam / si penelpon adalah roh gentayangan yg mencari mangsa, harap di mengerti dan kirim semua, harap saling membantu sesama umat manusia."

atau variasi sms lainnya seperti tanpa menyebutkan digit awal no telpon warna merah.

"Klo ada yg tlpn NO BERWRN MERAH jgn diangkat krn bs MENELAN JIWA, hr ini disiarkan dibrita,tjd dijkt&duri, n SDH TERBUKTI, skrg msh diusut o/ pihak KEPOLISIAN, dugaan smntr adl kasus PEMBNHN JRK JAUH MELALUI HP o/ DUKUN ILMU HTM/si penelpon adl ROH GENTAYANGAN yg mencr MANGSA, hrp dimngrt & krm ke tmn/sdr semua, hrp slg membnt ssm umat MANUSIA."

atau SMS semisal dengan redaksi yang sedikit berbeda dan tambah bumbu lainnya. Ini cukup meresahkan, bahkan di beberapa tempat berhasil memakan korban. Namun sebenarnya bukan persis seperti ancaman yang ada dalam berita sms tsb, melainkan lebih pada kondisi kejiwanan (mental) yang menerima sms.

Berita terakhir salah satu putra Uwak Mala (salah seorang asisten istri) unfall dan diopname di RS Kesrem Lhokseumawe setelah menerima sms ini. Usut punya usut, ybs memang punya penyakit jantung. Keterkejutan membuatnya unfall, bukan sihir nomor telpon merah. Karena memang belum ada nomor tsb yang masuk, baru sekedar sms pemberitahuan. Nah lo! Cukup jahat sms iseng ini. Berita tentang korban dapat dibaca di detikinet, silakan browsing.

Ada lagi info tentang sms ngawur ini yang sempat “mematikan” kabupaten Bireuen. Bayangkan, karena termakan isyu, banyak orang dan outlet yang mematikan handphone dan menutup toko pada hari Kamis tanggal 9 Mei 2008, karena takut kalau-kalau kejadian itu benar adanya. SMS bahkan dibumbui tentang adanya korban sakit bahkan meninggal di Takengon. Keruan orang Bireuen makin paranoid. Padahal tanggal 9 adalah hari diluncurkannya tarif baru simPATI PeDe 13, juga hari dimana para BM Lhokseumawe melakukan spreading ke kota-kota di wilayah kerja graPARI Lhokseumawe. “Bagaimana mau laku pak, banyak toko yang tutup karena isyu sms ‘berhadiah’ kejang-kejang pak”. Setidaknya begitulah laporan salah seorang yang melakukan spreading produk ke Bireuen. Aneh tapi nyata.

Ada teman yang juga anggota dewan yang sempat telpon sekedar konfirmasi kebenaran hal ini. Katanya, WHO pun memperingatkan bahaya ini. Hah?! WHO turut khawatir terhadap nasib bangsa kita terkait dengan sms gak jelas ini. Yang bener aje?! WHO badan dunia dengan seabreg (banyak sekali) masalah yang dihadapi, turun untuk berpartisipasi mengingatakan bahaya ini. Luar biasa! Takhayul ini perlu diperkuat oleh badan kesehatan dunia.

Dulu ramai surat berantai -baik dikirim atau via email- yang mengatasnamakan kuncen makam Nabi Muhammad shallollohu ‘alayhi wa wwlihi wa sallam, yang isinya sepertinya benar namun ada virus TBC (Takhayul, Bid’ah dan Khurofat) di dalamnya. Sekarang tekhnologi berubah. Media yang digunakan bisa beragam termasuk hape yang murah meriah. Targetnya bisa seribusatu macam. Yang pasti tidak perlu kesusu (tergesa gesa) percaya dengan hal yang berbau mistis alias takhayul. Perlu kewaspadaan dan kearifan berfikir sebelum kita memforward sms yang seperti ini. Bahkan sebaiknya kita memberikan pencerahan terhadap orang yang mem-forward ke kita. Ini pelajaran berharga, silakan ambil hikmahnya.

Saturday, July 12, 2008

Membedah KOnsep Blum dan Paradigma Sehat

Konsep hidup sehat H.L.Blum sampai saat ini masih relevan untuk diterapkan. Kondisi sehat secara holistik bukan saja kondisi sehat secara fisik melainkan juga spiritual dan sosial dalam bermasyarakat. Untuk menciptakan kondisi sehat seperti ini diperlukan suatu keharmonisan dalam menjaga kesehatan tubuh. H.L Blum menjelaskan ada empat faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Keempat faktor tersebut merupakan faktor determinan timbulnya masalah kesehatan.

Keempat faktor tersebut terdiri dari faktor perilaku/gaya hidup (life style), faktor lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya), faktor pelayanan kesehatan (jenis cakupan dan kualitasnya) dan faktor genetik (keturunan). Keempat faktor tersebut saling berinteraksi yang mempengaruhi kesehatan perorangan dan derajat kesehatan masyarakat. Diantara faktor tersebut faktor perilaku manusia merupakan faktor determinan yang paling besar dan paling sukar ditanggulangi, disusul dengan faktor lingkungan. Hal ini disebabkan karena faktor perilaku yang lebih dominan dibandingkan dengan faktor lingkungan karena lingkungan hidup manusia juga sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat.


Di zaman yang semakin maju seperti sekarang ini maka cara pandang kita terhadap kesehatan juga mengalami perubahan. Apabila dahulu kita mempergunakan paradigma sakit yakni kesehatan hanya dipandang sebagai upaya menyembuhkan orang yang sakit dimana terjalin hubungan dokter dengan pasien (dokter dan pasien). Namun sekarang konsep yang dipakai adalah paradigma sehat, dimana upaya kesehatan dipandang sebagai suatu tindakan untuk menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan individu ataupun masyarakat (SKM dan masyarakat).

Dengan demikian konsep paradigma sehat H.L. Blum memandang pola hidup sehat seseorang secara holistik dan komprehensif. Masyarakat yang sehat tidak dilihat dari sudut pandang tindakan penyembuhan penyakit melainkan upaya yang berkesinambungan dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Peranan Sarjana Kesehatan Masyarakat dalam hal ini memegang kendali dominan dibandingkan peranan dokter. Sebab hubungan dokter dengan pasien hanya sebatas individu dengan individu tidak secara langsung menyentuh masyarakat luas. Ditambah lagi kompetensi dalam memanagement program lebih dikuasai lulusan SKM sehingga dalam perkembangannya SKM menjadi ujung tombak program kesehatan di negara-negara maju.

Untuk negara berkembang seperti Indonesia justru, paradigma sakit yang digunakan. Dimana kebijakan pemerintah berorientasi pada penyembuhan pasien sehingga terlihat jelas peranan dokter, perawat dan bidan sebagai tenaga medis dan paramedis mendominasi. Padahal upaya semacam itu sudah lama ditinggalkan karena secara financial justru merugikan Negara. Anggaran APBN untuk pendanaan kesehatan di Indonesia semakin tinggi dan sebagian besar digunakan untuk upaya pengobatan seperti pembelian obat, sarana kesehatan dan pembangunan gedung. Seharusnya untuk meningkatan derajat kesehatan kita harus menaruh perhatian besar pada akar masalahnya dan selanjutnya melakukan upaya pencegahannya. Untuk itulah maka upaya kesehatan harus fokus pada upaya preventif (pencegahan) bukannya curative (pengobatan).

Namun yang terjadi anggaran untuk meningkatkan derajat kesehatan melalui program promosi dan preventif dikurangi secara signifikan. Akibat yang ditimbulkan adalah banyaknya masyarakat yang kekurangan gizi, biaya obat untuk puskesmas meningkat, pencemaran lingkungan tidak terkendali dan korupsi penggunaan askeskin. Dampak sampingan yang terjadi tersebut dapat timbul karena kebijakan kita yang keliru.


KONSEP BLUM

Semua Negara di dunia menggunakan konsep Blum dalam menjaga kesehatan warga negaranya. Untuk Negara maju saat ini sudah fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sehingga asupan makanan anak-anak mereka begitu dijaga dari segi gizi sehingga akan melahirkan keturunan yang berbobot. Kondisi yang berseberangan dialami Indonesia sebagai Negara agraris, segala regulasi pemerintah tentang kesehatan malah fokus pada penanggulangan kekurangan gizi masyarakatnya. Bahkan dilematisnya banyak masyarakat kota yang mengalami kekurangan gizi. Padahal dari hasil penelitian membuktikan wilayah Indonesia potensial sebagai lahan pangan dan perternakan karena wilayahnya yang luas dengan topografi yang mendukung. Ada apa dengan pemerintah?. Satu jawaban yang pasti seringkali dalam analisis kesehatan pemerintah kurang mempertimbangkan pendapat ahli kesehatan masyarakat (public health) sehingga kebijakan yang dibuat cuma dari sudut pandang kejadian sehat-sakit.

Dalam konsep Blum ada 4 faktor determinan yang dikaji, masing-masing faktor saling keterkaitan berikut penjelasannya :


1. Perilaku masyarakat

Perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan sangat memegang peranan penting untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Hal ini dikarenakan budaya hidup bersih dan sehat harus dapat dimunculkan dari dalam diri masyarakat untuk menjaga kesehatannya. Diperlukan suatu program untuk menggerakan masyarakat menuju satu misi Indonesia Sehat 2010. Sebagai tenaga motorik tersebut adalah orang yang memiliki kompetensi dalam menggerakan masyarakat dan paham akan nilai kesehatan masyarakat. Masyarakat yang berperilaku hidup bersih dan sehat akan menghasilkan budaya menjaga lingkungan yang bersih dan sehat.

Pembuatan peraturan tentang berperilaku sehat juga harus dibarengi dengan pembinaan untuk menumbuhkan kesadaran pada masyarakat. Sebab, apabila upaya dengan menjatuhkan sanksi hanya bersifat jangka pendek. Pembinaan dapat dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tokoh-tokoh masyarakat sebagai role model harus diajak turut serta dalam menyukseskan program-program kesehatan.



2. Lingkungan

Berbicara mengenai lingkungan sering kali kita meninjau dari kondisi fisik. Lingkungan yang memiliki kondisi sanitasi buruk dapat menjadi sumber berkembangnya penyakit. Hal ini jelas membahayakan kesehatan masyarakat kita. Terjadinya penumpukan sampah yang tidak dapat dikelola dengan baik, polusi udara, air dan tanah juga dapat menjadi penyebab. Upaya menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab semua pihak untuk itulah perlu kesadaran semua pihak.

Puskesmas sendiri memiliki program kesehatan lingkungan dimana berperan besar dalam mengukur, mengawasi, dan menjaga kesehatan lingkungan masyarakat. namun dilematisnya di puskesmas jumlah tenaga kesehatan lingkungan sangat terbatas padahal banyak penyakit yang berasal dari lingkungan kita seperti diare, demam berdarah, malaria, TBC, cacar dan sebagainya.

Disamping lingkungan fisik juga ada lingkungan sosial yang berperan. Sebagai mahluk sosial kita membutuhkan bantuan orang lain, sehingga interaksi individu satu dengan yang lainnya harus terjalin dengan baik. Kondisi lingkungan sosial yang buruk dapat menimbulkan masalah kejiwaan.


3. Pelayanan kesehatan

Kondisi pelayanan kesehatan juga menunjang derajat kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan yang berkualitas sangatlah dibutuhkan. Masyarakat membutuhkan posyandu, puskesmas, rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya untuk membantu dalam mendapatkan pengobatan dan perawatan kesehatan. Terutama untuk pelayanan kesehatan dasar yang memang banyak dibutuhkan masyarakat. Kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di bidang kesehatan juga mesti ditingkatkan.

Puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat sangat besar perananya. sebab di puskesmaslah akan ditangani masyarakat yang membutuhkan edukasi dan perawatan primer. Peranan Sarjana Kesehatan Masyarakat sebagai manager yang memiliki kompetensi di bidang manajemen kesehatan dibutuhkan dalam menyusun program-program kesehatan. Utamanya program-program pencegahan penyakit yang bersifat preventif sehingga masyarakat tidaka banyak yang jatuh sakit.

Banyak kejadian kematian yang seharusnya dapat dicegah seperti diare, demam berdarah, malaria, dan penyakit degeneratif yang berkembang saat ini seperti jantung karoner, stroke, diabetes militus dan lainnya. penyakit itu dapat dengan mudah dicegah asalkan masyarakat paham dan melakukan nasehat dalam menjaga kondisi lingkungan dan kesehatannya.


4. Genetik

Seperti apa keturunan generasi muda yang diinginkan ???. Pertanyaan itu menjadi kunci dalam mengetahui harapan yang akan datang. Nasib suatu bangsa ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Oleh sebab itu kita harus terus meningkatkan kualitas generasi muda kita agar mereka mampu berkompetisi dan memiliki kreatifitas tinggi dalam membangun bangsanya.

Dalam hal ini kita harus memperhatikan status gizi balita sebab pada masa inilah perkembangan otak anak yang menjadi asset kita dimasa mendatang. Namun masih banyak saja anak Indonesia yang status gizinya kurang bahkan buruk. Padahal potensi alam Indonesia cukup mendukung. oleh sebab itulah program penanggulangan kekurangan gizi dan peningkatan status gizi masyarakat masih tetap diperlukan. Utamanya program Posyandu yang biasanya dilaksanakan di tingkat RT/RW. Dengan berjalannya program ini maka akan terdeteksi secara dini status gizi masyarakat dan cepat dapat tertangani.

Program pemberian makanan tambahan di posyandu masih perlu terus dijalankan, terutamanya daeraha yang miskin dan tingkat pendidikan masyarakatnya rendah. Pengukuran berat badan balita sesuai dengan kms harus rutin dilakukan. Hal ini untuk mendeteksi secara dini status gizi balita. Bukan saja pada gizi kurang kondisi obesitas juga perlu dihindari. Bagaimana kualitas generasi mendatang sangat menentukan kualitas bangas Indonesia mendatang.

TETANUS NEONATORUM

Background

Tetanus is an infectious disorder characterized by increased muscle tone and spasms caused by the release of the neurotoxin tetanospasmin by Clostridium tetani following inoculation into a human host. Tetanus occurs in several clinical forms, including generalized, cephalic, localized, and neonatal disease.

Pathophysiology

Most cases of tetanus are caused by direct contamination of wounds with clostridial spores. Wounds with low oxidation-reduction potential, such as those with dead or devitalized tissue, a foreign body, or active infection, are ideal for germination of the spores and release of toxin. Infection by C tetani results in a benign appearance at the portal of entry because of its inability to evoke an inflammatory reaction (unless co-infection with other organisms develops).

Tetanospasmin, a zinc metalloprotease, is released in the wound and binds to the peripheral motor neuron terminal, enters the axon, and, via retrograde intraneuronal transport, reaches the nerve cell body in the brainstem and spinal cord. The toxin migrates across the synapse to presynaptic terminals where it blocks the release of the inhibitory neurotransmitters glycine and gamma-aminobutyric acid (GABA) by cleaving proteins crucial for the proper functioning of the synaptic vesicle release apparatus. One of these important proteins is synaptobrevin. This diminished inhibition results in an increase in the resting firing rate of the motor neuron, which is responsible for the observed muscle rigidity.

The lessened activity of reflexes limits the polysynaptic spread of impulses (a glycinergic activity). Agonists and antagonists may be recruited rather than inhibited, with consequent production of spasms. Loss of inhibition may also affect preganglionic sympathetic neurons in the lateral gray matter of the spinal cord and produce sympathetic hyperactivity and high levels of circulating catecholamines. Finally, tetanospasmin can block neurotransmitter release at the neuromuscular junction, causing weakness and paralysis.

Localized tetanus develops when only the nerves supplying the affected muscle are involved. Generalized tetanus develops when the toxin released at the wound spreads through the lymphatics and blood to multiple nerve terminals. The blood-brain barrier prevents direct entry of toxin to the CNS.

Frequency

United States

Neonatal tetanus is rare. Tetanus affects nonimmunized persons, partially immunized persons, or fully immunized individuals who do not maintain adequate immunity with periodic booster doses. The risk for development of tetanus and for the most severe form of the disease is highest in the elderly population. Most cases follow an acute injury, such as a puncture wound, a laceration, or an abrasion.

Tetanus can be acquired outdoors as well as indoors. The injury is usually trivial, and, often, no initial medical treatment is sought. Tetanus can also develop as a complication of some chronic conditions, such as decubitus ulcers, abscesses, and gangrene. Finally, it may complicate burns, frostbite, middle ear infections, surgery, abortion, childbirth, and intravenous or subcutaneous drug use. Fewer than 50 cases of tetanus per year have been recorded since 1995. The infection has not been transmitted from person to person.

International

C tetani is found worldwide in soil, on inanimate objects, in animal feces, and, occasionally, in human feces. The disease is common in areas where soil is cultivated, in rural areas, in warm climates, during summer months, and among males. In countries without a comprehensive immunization program, tetanus predominantly develops in neonates and young children

Wednesday, July 2, 2008

Riwayat Alamiah Penyekit

RIWAYAT ALAMIAH PERJALANAN PENYAKIT

Jika ditinjau proses yang terjadi pada orang sehat, menderita penyakit dan terhentinya penyakit tersebut dikenal dengan nama riwayat alamiah perjalanan penyakit (natural history of disease) terutama untuk penyakit infeksi.
Riwayat alamiah suatu penyakit adalah perkembangan penyakit tanpa campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara natural.

MANFAAT
Manfaat riwayat mempelajari alamiah perjalanan penyakit :
  1. Untuk diagnostik : masa inkubasi dapat dipakai pedoman penentuan jenis penyakit, misal dalam KLB (Kejadian Luar Biasa)
  2. Untuk Pencegahan : dengan mengetahui rantai perjalanan penyakit dapat dengan mudah dicari titik potong yang penting dalam upaya pencegahan penyakit.
  3. Untuk terapi : terapi biasanya diarahkan ke fase paling awal. Pada tahap perjalanan awal penyakit, adalah waktu yang tepat untuk pemberian terapi, lebih awal terapi akan lebih baik hasil yang diharapkan.

TAHAPAN
Tahapan Riwayat alamiah perjalanan penyakit :
a. Tahap Pre-Patogenesa
  • Pada tahap ini telah terjadi interaksi antara pejamu dengan bibit penyakit. Tetapi interaksi ini masih diluar tubuh manusia, dalam arti bibit penyakit berada di luar tubuh manusia dan belum masuk kedalam tubuh pejamu. Pada keadaan ini belum ditemukan adanya tanda – tanda penyakit dan daya tahan tubuh pejamu masih kuat dan dapat menolak penyakit. Keadaan ini disebut sehat.

b. Tahap Patogenesa
1) Tahap Inkubasi
  • Tahap inkubasi adalah masuknya bibit penyakit kedalam tubuh pejamu, tetapi gejala- gejala penyakit belum nampak. Tiap-tiap penyakit mempunyai masa inkubasi yang berbeda, ada yang bersifat seperti influenza, penyakit kolera masa inkubasinya hanya 1- 2 hari, penyakit Polio mempunyai masa inkubasi 7 - 14 hari, tetapi ada juga yang bersifat menahun misalnya kanker paru-paru, AIDS dan sebagainya.
  • Jika daya tahan tubuh tidak kuat, tentu penyakit akan berjalan terus yang mengakibatkan terjadinya gangguan pada bentuk dan fungsi tubuh. Pada suatu saat penyakit makin bertambah hebat, sehingga timbul gejalanya. Garis yang membatasi antara tampak dan tidak tampaknya gejala penyakit disebut dengan horison klinik.

2) Tahap Penyakit Dini
  • Tahap penyakit dini dihitung mulai dari munculnya gejala-gejala penyakit, pada tahap ini pejamu sudah jatuh sakit tetapi sifatnya masih ringan. Umumnya penderita masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari dan karena itu sering tidak berobat. Selanjutnya, bagi yang datang berobat umumnya tidak memerlukan perawatan, karena penyakit masih dapat diatasi dengan berobat jalan.
  • Tahap penyakit dini ini sering menjadi masalah besar dalam kesehatan masyarakat, terutama jika tingkat pendidikan penduduk rendah, karena tubuh masih kuat mereka tidak datang berobat, yang akan mendatangkan masalah lanjutan, yaitu telah parahnya penyakit yang di derita, sehingga saat datang berobat sering talah terlambat.

3) Tahap Penyakit Lanjut
  • Apabila penyakit makin bertambah hebat, penyakit masuk dalam tahap penyakit lanjut. Pada tahap ini penderita telah tidak dapat lagi melakukan pekerjaan dan jika datang berobat, umumnya telah memerlukan perawatan.

4) Tahap Akhir Penyakit
  • Perjalanan penyakit pada suatu saat akan berakhir. Berakhirnya perjalanan penyakit tersebut dapat berada dalam lima keadaan, yaitu :
  1. Sembuh sempurna : penyakit berakhir karena pejamu sembuh secara sempurna, artinya bentuk dan fungsi tubuh kembali kepada keadaan sebelum menderita penyakit.
  2. Sembuh tetapi cacat : penyakit yang diderita berakhir dan penderita sembuh. Sayangnya kesembuhan tersebut tidak sempurna, karena ditemukan cacat pada pejamu. Adapun yang dimaksudkan dengan cacat, tidak hanya berupa cacat fisik yang dapat dilihat oleh mata, tetapi juga cacat mikroskopik, cacat fungsional, cacat mental dan cacat sosial.
  3. Karier : pada karier, perjalanan penyakit seolah-olah terhenti, karena gejala penyakit memang tidak tampak lagi. Padahal dalam diri pejamu masih ditemukan bibit penyakit yang pada suatu saat, misalnya jika daya tahan tubuh berkurang, penyakit akan timbul kembali. Keadaan karier ini tidak hanya membahayakan diri pejamu sendiri, tetapi juga masyarakat sekitarnya, karena dapat menjadi sumber penularan
  4. Kronis : perjalanan penyakit tampak terhenti karena gejala penyakit tidak berubah, dalam arti tidak bertambah berat dan ataupun tidak bertambah ringan. Keadaan yang seperti tentu saja tidak menggembirakan, karena pada dasarnya pejamu tetap berada dalam keadaan sakit.
  5. Meninggal dunia : terhentinya perjalanan penyakit disini, bukan karena sembuh, tetapi karena pejamu meninggal dunia. Keadaan seperti ini bukanlah tujuan dari setiap tindakan kedokteran dan keperawatan.

Epidemiologi Deskriptif

EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF

DEFINISI
Epidemiologi desriptif adalah studi yang ditujukan untuk menentukan jumlah atau frekuensi dan distribusi penyakit di suatu daerah berdasarkan variabel orang, tempat dan waktu.
Epidemiologi deskriptif umumnya dilaksanakan jika tersedia sedikit informasi yang diketahui mengenai kejadian, riwayat alamiah dan faktor yang berhubungan dengan penyakit.

Upaya mencari frekuensi distribusi penyakit berdasarkan epidemiologi deskriptif dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan :
  • Siapa yang terkena?
  • Bilamana hal tersebut terjadi?
  • Bagaimana terjadinya?
  • Dimana kejadian tersebut?
  • Berapa jumlah orang yang terkena?
  • Bagaimana penyebarannya?
  • Bagaimana ciri-ciri orang yang terkena?

TUJUAN
Tujuan epidemiologi deskriptif adalah :
  1. Untuk menggambarkan distribusi keadaan masalah kesehatan sehingga dapat diduga kelompok mana di masyarakat yang paling banyak terserang.
  2. Untuk memperkirakan besarnya masalah kesehatan pada berbagai kelompok.
  3. Untuk mengidentifikasi dugaan adanya faktor yang mungkin berhubungan terhadap masalah kesehatan (menjadi dasar suatu formulasi hipotesis).

KATEGORI
Berdasarkan unit pengamatan/analisis epidemiologi deskriptif dibagi 2 kategori :
  • Populasi : Studi Korelasi Populasi, Rangkaian Berkala (time series).
  • Individu : Laporan Kasus (case report), Rangkaian Kasus (case series), Studi Potong Lintang (Cross-sectional).

JENIS PENELITIAN

STUDI KORELASI POPULASI
Studi epidemiologi dengan populasi sebagai unit analisis yang bertujuan mendeskripsikan hubungan korelatif antara penyakit dan faktor-faktor penelitian. Faktor-faktor yang digunakan : umur, bulan, penggunaan pelayanan kesehatan, konsumsi jenis makanan, obat-obatan, sigaret dll.
Unit observasi/unit analisis adalah kelompok individu, komunitas, atau populasi yang lebih besar.

Prinsip-prinsip studi Korelasi populasi :
  • 2 VARIABEL (x : Paparan, Y : penyakit) diukur pada tiap-tiap unit observasi
  • Kemudian sejumlah n pasangan (X,Y) dipertemukan untuk dicari hubungannya.
  • Kekuatan hubungan linear antara X dan Y dihitung dalam koefisien korelatif r, mengukur berapa besar perubahan tiap unit frekuensi penyakit diikuti perubahan setiap unit paparan
  • Contoh : Studi korelasi populasi untuk mempelajari hubungan korelatif antara kematian karena kanker paru pada pria tahun 1950 dan konsumsi sigaret pada tahun 1930 di berbagai negara.

a) Kekuatan
  • Dapat menggunakan data insidensi, prevalensi dan mortalitas
  • Digunakan pada penyelidikan awal hubungan paparan dan penyakit
  • Mudah dilakukan dan murah dengan memanfaatkan informasi yang tersedia
  • Departemen pemerintah dan Biro Pusat statistik secara teratur mengumpulkan data demografi yang dapat dikolerasikan dengan data morbiditas, mortalitas dan penggunaan sumber daya kesehatan yang dikumpulkan Departmen Kesehatan.

b) Kelemahan
  • Tidak mampu mengatasi kesenjangan status paparan dan penyakit pada tingkat populasi dan individu. Kita tidak mengetahui apakah seseorang yang terpapar juga berpenyakit.
  • Tidak mampu mengontrol faktor perancu
  • Contoh : terlepas dari korelasi positif yang kuat antara merokok dengan kematian Ca paru, dapat diduga bahwa perkiraan tersebut lebih besar dari sesungguhnya, karena adanya faktor lain : polusi udara, asbes, radium, hidrokarbon, radiasi dll.

RANGKAIAN BERKALA
Studi epidemiologi yang bertujuan mendeskripsikan dan mempelajari frekuensi penyakit atau status kesehatan satu/beberapa populasi berdasarkan serangkaian pengamatan pada beberapa sekuens waktu. Ciri rangkaian berkala adalah menghubungkan variasi frekuensi penyakit dari waktu ke waktu.

Manfaat studi rangkaian berkala adalah :
  • Meramalkan kejadian penyakit berikutnya berdasarkan pengalaman lampau
  • Mengevaluasi efektifitas intervensi kesehatan masyarakat
Rangkaian berkala merupakan salah satu rancangan eksperimen semu untuk mengevaluasi efektivitas intervensi. Evaluasi dilakukan dengan cara : mempelajari perubahan gerakan kurva frekuensi penyakit pada populasi selama beberapa interval waktu, baik sebelum maupun sesudah implementasi intervensi pada populasi.
Contoh : rangkaian berkala untuk mengevaluasi efektifitas peraturan senjata api di Detroit.

Komponen pembentuk rangkaian berkala yang dapat merancukan pengaruh intervensi sebenarnya
  • Kecenderungan sekuler
  • Variasi Musim
  • Variasi Siklik
  • Variasi Acak (Random)

Epidemiologi Analitik

EPIDEMIOLOGI ANALITIK

TUJUAN
Epidemologi Analitik adalah riset epidemiologi yang bertujuan :
  1. Menjelaskan faktor-faktor resiko dan kausa penyakit.
  2. Memprediksikan kejadian penyakit
  3. Memberikan saran strategi intervensi yang efektif untuk pengendalian penyakit.
PEMBAGIAN BERDASARKAN PERAN
Berdasarkan peran epidemiologi analalitik dibagi 2 :
  • Studi Observasional : Studi Kasus Control (case control), studi potong lintang (cross sectional) dan studi Kohor.
  • Studi Eksperimental : Eksperimen dengan kontrol random (Randomized Controlled Trial /RCT) dan Eksperimen Semu (kuasi).

Epidemiologi PTM

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR

A. PENDAHULUAN

1. Berdasarkan perjalanannya penyakit dapat dibagi menjadi :
  • Akut
  • Kronis
2. Berdasarkan sifat penularannya dapat dibagi menjadi :
  • Menular
  • Tidak Menular
3. Proses terjadinya penyakit merupakan interaksi antara agen penyakit, manusia (Host) dan lingkungan sekitarnya.
  • Untuk penyakit menular, proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara : Agent penyakit (mikroorganisme hidup), manusia dan lingkungan
  • Untuk penyakit tidak menular proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara agen penyakit (non living agent), manusia dan lingkungan.
4. Penyakit tidak menular dapat bersifat akut dapat juga bersifat kronis.

5. Pada Epidemiologi Penyakit tidak Menular terutama yang akan dibahas adalah penyakit- penyakit yang bersifat kronis.

6. Kepentingan :
  • Penyakit-penyakit tidak menular yang bersifat kronis sebagai penyebab kematian mulai menggeser kedudukan dari penyakit-penyakit infeksi

  • Penyakit tidak menular mulai meningkat bersama dengan life-span (pola hidup) pada masyarakat.
  • Life – span meningkat karena adanya perubahan-perubahan didalam : kondisi sosial ekonomi, kondisi hygiene sanitasi, meningkatnya ilmu pengetahuan, perubahan perilaku

PENYAKIT - PENYAKIT TIDAK MENULAR YANG BERSIFAT KRONIS
1. Penyakit yang termasuk di dalam penyebab utama kematian, yaitu :
  • Ischaemic Heart Disease
  • Cancer
  • Cerebrovasculer Disease
  • Chronic Obstructive Pulmonary Disease
  • Cirrhosis
  • Diabetes Melitus

2. Penyakit yang termasuk dalam special – interest , banyak menyebabkan masalah kesehatan tapi jarang frekuensinya (jumlahnya), yaitu :
  • Osteoporosis
  • Penyakit Ginjal kronis
  • Mental retardasi
  • Epilepsi
  • Lupus Erithematosus
  • Collitis ulcerative
3. Penyakit yang termasuk akan menjadi perhatian yang akan datang, yaitu :
  • Defisiensi nutrisi
  • Akloholisme
  • Ketagihan obat
  • Penyakit-penyakit mental
  • Penyakit yang berhubungan dengan lingkungan pekerjaan.

FAKTOR-FAKTOR RESIKO
1. Faktor resiko untuk timbulnya penyakit tidak menular yang bersifat kronis belum ditemukan secara keseluruhan,
  • Untuk setiap penyakit, faktor resiko dapat berbeda-beda (merokok, hipertensi, hiperkolesterolemia)
  • Satu faktor resiko dapat menyebabkan penyakit yang berbeda-beda, misalnya merokok, dapat menimbulkan kanker paru, penyakit jantung koroner, kanker larynx.
  • Untuk kebanyakan penyakit, faktor-faktor resiko yang telah diketahui hanya dapat menerangkan sebagian kecil kejadian penyakit, tetapi etiologinya secara pasti belum diketahui
2. Faktor-faktor resiko yang telah diketahui ada kaitannya dengan penyakit tidak menular yang bersifat kronis antara lain :
  • Tembakau
  • Alkohol
  • Kolesterol
  • Hipertensi
  • Diet
  • Obesitas
  • Aktivitas
  • Stress
  • Pekerjaan
  • Lingkungan masyarakat sekitar
  • life style

KARAKTERISTIK PENYAKIT TIDAK MENULAR
Telah dijelaskan diatas bahwa penyakit tidak menular terjadi akibat interaksi antara agent (Non living agent) dengan host dalam hal ini manusia (faktor predisposisi, infeksi dll) dan lingkungan sekitar (source and vehicle of agent)
1. Agent
a. Agent dapat berupa (non living agent) :
1) Kimiawi
2) Fisik
3) Mekanik
4) Psikis
b. Agent penyakit tidak menular sangat bervariasi, mulai dari yang paling sederhana sampai yang komplek (mulai molekul sampai zat-zat yang komplek ikatannya)
c. Suatu penjelasan tentang penyakit tidak menular tidak akan lengkap tanpa mengetahui spesifikasi dari agent tersebut
d. Suatu agent tidak menular dapat menimbulkan tingkat keparahan yang berbeda-beda (dinyatakan dalam skala pathogenitas)
Pathogenitas Agent : kemampuan / kapasitas agent penyakit untuk dapat menyebabkan sakit pada host

Pathogenitas agent :

e. Karakteristik lain dari agent tidak menular yang perlu diperhatikan antara lain :
1) Kemampuan menginvasi / memasuki jaringan
2) Kemampuan merusak jaringan : Reversible dan irreversible
3) Kemampuan menimbulkan reaksi hipersensitif

2. Reservoir
a. Dapat didefinisikan sebagai organisme hidup, benda mati (tanah, udara, air batu dll) dimana agent dapat hidup, berkembang biak dan tumbuh dengan baik.
b. Pada umumnya untuk penyakit tidak menular, reservoir dari agent adalah benda mati.
c. Pada penyakit tidak menular, orang yang terekspos/terpapar dengan agent tidak berpotensi sebagai sumber/reservoir tidak ditularkan.

3. Relasi Agent – Host
a. Fase Kontak
Adanya kontak antara agent dengan host, tergantung :
1) Lamanya kontak
2) Dosis
3) Patogenitas

b. Fase Akumulasi pada jaringan
Apabila terpapar dalam waktu lama dan terus-menerus

c. Fase Subklinis
Pada fase subklinis gejala/sympton dan tanda/sign belum muncul
Telah terjadi kerusakan pada jaringan, tergantung pada :
1) Jaringan yang terkena
2) Kerusakan yang diakibatkannya (ringan, sedang dan berat)
3) Sifat kerusakan (reversiblle dan irreversible/ kronis, mati dan cacat)

d. Fase Klinis
Agent penyakit telah menimbulkan reaksi pada host dengan menimbulkan manifestasi (gejala dan tanda).

4. Karakteristik penyakit tidak menular :
a. Tidak ditularkan
b. Etiologi sering tidak jelas
c. Agent penyebab : non living agent
d. Durasi penyakit panjang (kronis)
e. Fase subklinis dan klinis panjang untuk penyakit kronis.

5. Rute dari keterpaparan
Melalui sistem pernafasan, sistem digestiva, sistem integumen/kulit dan sistem vaskuler.

RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT

A. PROSES TERJADINYA PENYAKIT
1. Proses terjadinya penyakit tergantung pada :
a. Karakterisitik dari agent
b. Karakteristik dari Host
c. Karakteristik dari environment

2. Pada penyakit Menular
Manusia mempertahankan keseimbangan untuk tetap sehat melawan :
a. Agent (living organisme)
b. Kondisi lingkungan yang sesuai dengan organisme tersebut
c. Faktor predisposisi

3. Pada Penyakit Tidak Menular
Manusia mempertahankan keseimbangan untuk tetap sehat melawan :
a. Agent (non living organisme)
b. Kondisi lingkungan yang sesuai dengan organisme tersebut
c. Faktor predisposisi

B. RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT
1. Definisi Riwayat Alamiah Penyakit :
a. Perkembangan penyakit tanpa campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara natural
b. Adanya respon dari host terhadap stimulus dari interaksi agent dan environment

2. Tahapan :
a. Prepathogenesis
1) Faktor-faktor : hereditas, ekonomi, sosial, lingkungan fisik, psikis
stimulus penyakit
2) Stimulus dapat terjadi sebelum terjadinya interaksi antara stimulus dan manusia
3) Interaksi awal antara faktor –faktor host, agent dan environment disebut periode prepathogenesis

b. Pathogenesis
Mulai saat terjadinya terjadinya kelainan /gangguan pada tubuh manusia akibat interaksi antara stimulus penyakit dengan manusia sampai terjadinya : kesembuhan, kematian, kronik dan cacat.

Pada pembahasan diatas tidak dijelaskan tentang kondisi orang sebelum terinfeksi, tetapi mempunyai resiko untuk terkena suatu penyakit. Untuk mengatasi kekurangan ini, perjalanan penyakit dikembangkan menjadi :

a. Fase Suseptibilitas (Tahap Peka)
1) Pada fase ini penyakit belum berkembang, tapi mempunyai faktor resiko atau predisposisi untuk terkena penyakit .
2) Faktor resiko tersebut dapat berupa
a) Genetika /etnik
b) Kondisi fisik, misalnya : kelelahan, kurang tidur dan kurang gizi.
c) Jenis kelamin
Wanita mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena penyakit Diabetes mellitus dan reumatoid artritis dibandingkan dengan pria dan sebaliknya pria mempunyai resiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dan hipertensi dibandingkan wanita.
d) Umur
Bayi dan balita yang masih rentan terhadap perubahan lingkungan mempunyai resiko yang tinggi terkena penyakit infeksi sedangkan pada usia lanjut mempunyai resiko untuk terkena penyakit jantung dan kanker.
e) Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang kurang sehat seperti merokok mempunyai resiko untuk terkena penyakit jantung dan karsinoma paru-paru.
f) Sosial ekonomi
Tingkat sosial ekonomi yang rendah mempunyai resiko terkena penyakit infeksi sedangkan tingkat sosial yang tinggi mempunyai resiko terkena penyakit hipertensi, penyakit jantung koroner, gangguan kardiovaskuler dll, karena pada dengan tingkat sosial ekonomi yang tinggi mempunyai kecenderungan untuk terjadinya perubahan pola konsumsi makanan dengan kadar kolesterol tinggi.
3) Untuk menimbulkan penyakit, faktor-faktor diatas dapat berdiri sendiri atau kombinasi beberapa faktor.
Contoh :
 Kadar kolesterol meningkat akan mengakibatkan terjadinya penyakit jantung koroner.
 Kelelahan, alkoholik merupakan kondisi yang suseptibel untuk terjadinya Hepatitis,

b. Fase Subklinis
1) Disebut juga fase Presimptomatik
2) Pada tahap ini penyakit belum bermanifestasi dengan nyata (sign dan symptom masih negatif) , tapi telah terjadi perubahan-perubahan dalam jaringan tubuh (Struktur ataupun fungsi)
3) Kondisi seperti diatas dikatakan dalam kondisi “Below The Level of clinical horizon”
4) Fase ini mempunyai ciri-ciri :
 Perubahan akibat infeksi atau pemaparan oleh agen penyebab penyakit masih belum nampak
 Pada penyakit infeksi terjadi perkembangbiakan mikroorganisme patogen sedangkan pada penyakit non – infeksi merupakan periode terjadinya perubahan anatomi dan histologi, misalnya terjadinya ateroskelotik pada pembuluh darah koroner yang mengakibatkan penyempitan pembuluh darah.

c. Fase Klinis
1) Pada fase ini perubahan-perubahan yang terjadi pada jaringan tubuh telah cukup untuk memunculkan gejala-gejala (symptom) dan tanda-tanda (signs) penyakit.
2) Fase ini dibagi menjadi fase akut dan kronis.

d. Fase Konvalescen
1) Akhir dari fase klinis dapat berupa :
 Fase Konvalescen (Penyembuhan)
 Meninggal dunia
2) Fase konvalescen dapat berkembang menjadi :
 Sembuh total
 Sembuh dengan cacat (Disabilitas atau sekuele)
 Penyakit menjadi kronis
3) Disabilitas (Kecacatan/ketidakmampuan)
 Terjadi penurunan fungsi sebagian atau keseluruhan dari struktur/organ tubuh tertentu sehingga menurunkan fungsi aktivitas seseorang secara keseluruhan
 Dapat bersifat : sementara (akut), kronis dan menetap
4) Sekuele
 Lebih cenderung kepada adanya defect/cacat pada struktur jaringan sehingga menurunkan fungsi jaringan dan tidak sampai menggangu aktivitas seseorang.

C. USAHA PENCEGAHAN PENYAKIT
Disesuaikan dengan riwayat alamiah penyakit, maka tindakan preventif terhadap penyakit secara garis besar dapat dikategorikan menjadi :
1. Usaha Preventif Primer
2. Usaha Preventif Sekunder
3. Usaha Preventif Tertier

Outbreak Investigation (investigasi wabah)

WABAH

Wabah : adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU No 4. Tahun 1984).
Suatu wabah dapat terbatas pada lingkup kecil tertentu (disebut outbreak, yaitu serangan penyakit) lingkup yang lebih luas (epidemi) atau bahkan lingkup global (pandemi).

OUTBREAK
Suatu episode dimana terjadi dua atau lebih penderita suatu penyakit yang sama dimana penderita tersebut mempunyai hubungan satu sama lain.

EPIDEMI
Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) yang ditemukan pada suatu daerah tertentu dalam waktu yang singkat frekuensinya meningkat.

PANDEMI
Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit), frekuensinya dalam waktu singkat meningkat tinggi dan penyebarannya telah mencakup wilayah yang luas

ENDEMI
Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit), frekuensinya pada wilayah tertentu menetap dalam waktu lama berkenaan dengan adanya penyakit yang secara normal biasa timbul dalam suatu wilayah tertentu.

KEJADIAN LUAR BIASA
Kejadian Luar Biasa (KLB) salah satu kategori status wabah dalam peraturan yang berlaku di Indonesia. tatus Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004.

Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.

Kriteria tentang KLB mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/9. Suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur:
  1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
  2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
  3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
  4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.

LANGKAH-LANGKAH INVESTIGASI WABAH
1. Konfimasi / menegakkan diagnosa
  • Definisi kasus
  • Klasifikasi kasus dan tanda klinik
  • Pemeriksaan laboratorium
2. Menentukan apakah peristiwa itu suatu letusan/wabah atau bukan
  • Bandingkan informasi yang didapat dengan definisi yang sudah ditentukan tentang KLB
  • Bandingkan dengan incidende penyakit itu pada minggu/bulan/tahun sebelumnya
3. Hubungan adanya letusan/wabah dengan faktor-faktor waktu, tempat dan orang
  • Kapan mulai sakit (waktu)
  • Dimana mereka mendapat infeksi (tempat)
  • Siapa yang terkena : (Gender, Umur, imunisasi, dll)
4. Rumuskan suatu hipotesa sementara
  • Hipotesa kemungkinan : penyebab, sumber infeksi, distribusi penderita (pattern of disease)
  • Hipotesa : untuk mengarahkan penyelidikan lebih lanjut
5. Rencana penyelidikan epidemiologi yang lebih detail Untuk menguji hipotesis :
  • Tentukan : data yang masih diperlukan sumber informasi
  • Kembangkan dan buatkan check list.
  • Lakukan survey dengan sampel yang cukup
6. Laksanakan penyelidikan yang sudah direncanakan
  • Lakukan wawancara dengan :
a. Penderita-penderita yang sudah diketahui (kasus)
b. Orang yang mempunyai pengalaman yang sama baik mengenai waktu/tempat terjadinya penyakit, tetapi mereka tidak sakit (control)
  • Kumpulkan data kependudukan dan lingkungannya
  • Selidiki sumber yang mungkin menjadi penyebab atau merupakan faktor yang ikut berperan
  • Ambil specimen dan sampel pemeriksa di laboratorium
7. Buatlah analisa dan interpretasi data
  • Buatlah ringkasan hasil penyelidikan lapangan
  • Tabulasi, analisis, dan interpretasi data/informasi
  • Buatlah kurva epidemik, menghitung rate, buatlah tabel dan grafik-grafik yang diperlukan
  • Terapkan test statistik
  • Interpretasi data secara keseluruhan
8.Test hipotesa dan rumuskan kesimpulan
  • Lakukan uji hipotesis
  • Hipotesis yang diterima, dpt menerangkan pola penyakit :
a. Sesuai dengan sifat penyebab penyakit
b. Sumber infeksi
c. Cara penularan
d. Faktor lain yang berperan
9. Lakukan tindakan penanggulangan
  • Tentukan cara penanggulangan yang paling efektif.
  • Lakukan surveilence terhadap penyakit dan faktor lain yang berhubungan.
  • Tentukan cara pencegahan dimasa akan datang
10. Buatlah laporan lengkap tentang penyelidikan epidemiologi tersebut.
  • Pendahuluan
  • Latar Belakang
  • Uraian tentang penelitian yang dilakukan
  • Hasil penelitian
  • Analisis data dan kesimpulan
  • Tindakan penanggulangan
  • Dampak-dampak penting
  • Saran rekomendasi

DBMS (Data Base Management System)

Basis Data
Basis data (Database) adalah suatu tempat dari kumpulan data yang terintegrasi, diorganisasikan dan disimpan dengan scara yang memudahkan untuk pengambilan kembali. Tujuan utama dari basis data adalah meminimumkan pengulangan data dan mencapai indepedensi data (kemampuan untuk membuat perubahan dalam struktur data tanpa membuat perubahan pada program yang memproses data).
Pendefinisian basis data meliputi spesifikasi tipe data, struktur dan pembatasan (constraints) dari data yang harus disimpan dalam basis data. Penyusunan basis data meliputi proses memasukkan data dalam media penyimpanan data yang harus dikontrol oleh SMBD, sedangkan yang termasuk dalam manipulasi basis data seperti pembuatan pertanyaan (query) dari basis data untuk mendapatkan informasi tertentu, melakukan pembaharuan (updating) data, dan pembuatan laporan (report generation) dari data dalam basis data (Murdick, 1997).
Di dalam pelaksanaan penyusunan basis data dengan komputer SMBD yang digunakan dapat dibuat sendiri bertujuan untuk dapat memanipulasi data dari basis data sehingga diperoleh informasi sesuai dengan yang diinginkan. Gabungan antara basis data dan perangkat lunak SMBD termasuk di dalamnya program aplikasi yang dibuat dan bekerja dalam suatu sistem, disebut sebagai Sistem Basis Data

Konsep Sistem Basis Data (Kompilasi dari Elmasri R, dkk, 1994)

Database Management System (DBMS)
Sistem Manajemen Basis Data (SMBD) adalah kumpulan program. Suatu SMBD merupakan sistem yang digunakan untuk membuat dan mengelola basis data dengan perangkat lunak yang secara umum dapat digunakan untuk melakukan proses pada data dalam hal pendefinisian, penyusunan dan manipulasi basis data.
Database Management System (DBMS) juga merupakan salah satu perangkat lunak yang digunakan untuk mengolah basis data yang memelihara integrasi logis antar file, baik langsung maupun tidak langsung. DBMS akan menentukan bagaimana data diorganisasi mulai dari penyimpanan, pengubahan dan pemakaian data kembali serta pengamanan dan pemakaian data secara bersama. Contoh perangkat lunak dari DBMS seperti dBase III, Bortland, Fox Base, Microsoft Access dan lain-lain.
Semua DBMS memiliki suatu pengolah bahasa deskripsi data (data description language processor) yang mengubah kamus data menjadi skema database, sedangkan pemakai menggunakan manipulasi data dan query language.

Tahapan aplikasi (pengguna) mengambil data dari basis data adalah sebagai berikut:
a)Data manipulation language (DML) menentukan DBMS data apa yang diperlukan.
b)DBMS memeriksa skema dan subskema untuk menguji bahwa data ada dalam database dan program aplikasi berhak menggunakannya.
c)DBMS meneruskan permintaan data ke sistem operasi.
d)Data diambil dan dimasukkan dalam area penyimpanan buffer khusus dalam penyimpanan primer.
e)Data ditransfer dalam area input program aplikasi.
f)DBMS mengembalikan pengendalian ke program aplikasi.
g)Program aplikasi menggunakan data

Proses pembentukan basis data memerlukan perangkat seperti:
1.diagram konteks,
2.data flow diagram (DFD),
3.kamus data,
4.flowchart,
5.entity relationship diagram (ERD)
6.normalisasi.

Fungsi diagram konteks adalah memperlihatkan interaksi sistem informasi dengan lingkungan dimana sistem tersebut ditempatkan. Penggambaran ini termasuk DFD yang berinteraksi dengan sistem informasi. DFD ini akan dikembangkan dalam DFD tahapan secara rinci mengenai sistem sebagai jaringan kerja antar fungsi yang berhubungan satu sama lain dan ke arah mana data mengalir serta penyimpanannya.
Kamus data juga berperan dalam perancangan sistem informasi, dimana kamus data akan menjelaskan DFD, mendeskripsikan pakaet data serta menjelaskan spesifikasi nilai dan satuan terhadap data yang mengalir. Flowchart merupakan tahapan pemecahan masalah secara sederhana, terurai, rapi dan jelas dengan menggunakan simbol-simbol yang standar.

Untuk menggambarkan hubungan relasi antar file dapat digunakan ERD, yang digolongkan dalam bentuk relasi satu-satu, satu-banyak dan banyak-banyak. Normalisasi adalah proses pengelompokan data menjadi tabel yang menunjukkan entitas dan relasinya, yang tujuannya untuk memudahkan pengorganisasian data.

DBMS berguna untuk memelihara koleksi data yang dapat dipakai secara bersama, membentuk hubungan antara item data, meminimalkan data yang berlebihan (redundancy), menyediakan cara pencarian data dan pengawasan terhadap penyimpanan data, menyediakan data lengkap untuk pembuatan laporan serta memungkinkan pengembangan aplikasi. DBMS juga bermanfaat bagi organisasi yang menggunakan kumputer sebagai suatu sistem informasi.

Basis data dapat diartikan sebagai kumpulan data tentang suatu benda atau kejadian yang saling berhubungan satu sama lain, sedangkan data merupakan fakta yang mewakili suatu obyek seperti manusia, hewan, peristiwa, konsep, keadaan dan sebagainya yang dicatat dan mempunyai arti implisit.

Penggunaan istilah basis data menurut Elmasri R., 1994 dalam Waljianto (2003), lebih dibatasi pada arti implisit yang khusus yaitu :
a.Basis data merupakan penyajian suatu aspek dari dunia nyata (realworld atau miniworld), misalnya basis data perbankan, perpustakaan, pertanahan, perpajakan dan sebagainya.
b.Basis data merupakan kumpulan data dari berbagai sumber yang secara logika mempunyai arti implisit, sehingga data yang terkumpul secara acak dan tanpa mempunyai arti, tidak dapat disebut basis data.
c.Basis data perlu dirancang, dibangun dan data dikumpulkan untuk suatu tujuan. Basis data dapat digunakan oleh beberapa pemakai dan beberapa aplikasi yang sesuai dengan kepentingan pemakai.

Dari batasan tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa basis data mempunyai berbagai sumber data dalam pengumpulan data, bervariasi derajad interaksi kejadian dari dunia nyata, dirancang dan dibangun agar dapat digunakan oleh beberapa pemakai untuk berbagai kepentingan. Suatu hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan data pada basis data adalah dihindarkan adanya data yang rangkap (redundant) (Murdick, 1997).
Pengelolaan basis data dapat dilakukan secara manual ataupun dengan komputer. Basis data berbasis komputer dapat dikelola baik oleh sekumpulan program aplikasi untuk suatu kepentingan atau oleh Sistem Manajemen Basis Data (Database Management System) (Murdick, 1997).

Di dalam pendekatan basis data, sejumlah data disimpan dalam satu tempat dengan definisi data yang tetap sehingga dapat diakses oleh beberapa pemakai dengan berbagai program aplikasi melalui kontrol SMBD, seperti tampak pada gambar. (Waljianto, 2003)

Karaktristik utama yang membedakan antara pemrosesan berkas dan pendekatan basis data dapat dijelaskan sebagai berikut : (Waljianto, 2003)
a.Pendefinisian Data
Definisi data disimpan dalam sistem katalog, yang berisi informasi tentang struktur tiap berkas, tipe dan format penyimpanan tiap item data dan berbagai konstri dari data. Semua informasi yang disimpan dalam sistem katalog ini biasa disebut meta-data.
b.Pemisahan Program dan Data
Seperti telah diutarakan bahwa dalam pendekatan pemrosesan berkas, struktur berkas data menjadi satu dengan program aplikasi, sehingga bila terjadi perubahan struktur data maka program aplikasi juga harus dirubah. Sedangkan SMBD mengakses program aplikasi yang ditulis secara terpisah untuk suatu tujuan tertentu.
c.Penggunaan Data
Basis data pada umumnya digunakan oleh beberapa pemakai untuk kepentingan penggunaan yang berbeda. Data yang diperlukan dapat secara eksplisit tersimpan dalam basis data, ataupun pemakai harus melakukan pemrosesan sendiri untuk memperoleh data atau informasi yang diinginkan.
d.Pemakaian Data Bersama
Basis data dengan SMBD memungkinkan beberapa pemakai mengakses data yang sama pada waktu yang bersamaan pula. Untuk menjamin bahwa data yang diakses tidak terjadi kesalahan maka harus ada kontrol yang terintegrasi terhadap basis data (concurrency control).

Dari uraian yang telah dipaparkan dapat dituliskan beberapa keuntungan pendekatan basis data, yaitu sebagai berikut : (Waljianto, 2003)
a.Pemusatan Kontrol Data
Dengan satu SMBD di bawah kontrol satu orang atau kelompok dapat menjamin terpeliharanya standar kualitas data dan keamanan pembatasan pemakaian. Disamping itu adanya konflik dalam persyaratan pemakaian data dapat dinetralkan, serta integritas data dapat terjaga.
b.Pemakaian Data Bersama
Dengan menggunakan SMBD, informasi yang ada dalam basis data dapat digunakan secara efektif oleh beberapa pemakai dengan kontrol data yang terjaga. Fasilitas penanganan data dalam SMBD juga memberi kemungkinan untuk mengembangkan program aplikasi baru (dengan menggunakan basis data yang ada).
c.Data yang Bebas
Program aplikasi terpisah atau bebas dengan bentuk secara fisik data disimpan dalam komputer.
d.Kemudahan dalam pembuatan program aplikasi baru
Program aplikasi yang baru dan pencarian basis data yang tunggal akan lebih mudah jika menggunakan fasilitas yang ada pada SMBD.
e.Pemakaian secara langsung
Sistem basis data saat ini biasanya menyediakan jendela pemakai, sehingga pemakai dapat melakukan analisis data yang rumit sekalipun. Pada saat yang sama sistem basis data berperan sebagai pengontrol penggunaan dan operasi basis data untuk menjaga konsistensi dan adanya perlindungan pada integritas basis data
f.Data yang berlebihan dapat dikontrol
Dalam pemrosesan berkas untuk tiap aplikasi menggunakan berkas-berkas yang terpisah, sehingga tidak jarang akan menghasilkan data yang rangkap (redundant), hal demikian menyebabkan pemborosan biaya. SMBD dapat digunakan untuk menurunkan tingkat redudancy dan pengelolaan proses pembaharuan data.
g.Pandangan pemakai (user views)
SMBD dapat memberikan kemudahan untuk membuat dan memelihara jendela pemakai (user interface) sesuai dengan pandangan pemakai terhadap basis data.

SMBD tidak selalu memberikan keuntungan untuk semua aplikasi pendekatan basis data. Beberapa kelemahannya adalah sebagai berikut :
a.Biaya
Biaya yang digunakan untuk mendapatkan perangkat lunak dan perangkat keras yang tepat sangatlah mahal, termasuk biaya untuk pemeliharaannya (maintenance cost) dan penyediaan sumberdaya manusia untuk mengelola basis data tersebut.
b.Sangat kompleks
Sistem basis data lebih kompleks dibanding proses berkas. Menurut teori semakin kompleks suatu sistem akan semakin mudah terjadi kesalahan dan semakin sulit dalam pemeliharaan data.
c.Risiko data yang terpusat
Menurut teori data yang terpusat dalam satu lokasi dengan selalu menjaga adanya data rangkap yang kecil, akan terjadi risiko kehilangan data selama proses aplikasi.


Pendekatan Basis Data

The Hierarichal Database
File-file di hubungkan seperti adanya order, persoalan yang ditimbulkan adalah dengan dilakukannya penghapusan data di salah satu parent, maka subordinat akan terhapus juga, kaku, tidak ada hubungan antar anak file
The Relational Database
Merupakan hubungan yang paling sering , karena lebih mudah dalam berhubungan, mudah dihapus tanpa takut akan menghapus file yang lain pula, mudah pula untuk pemasukan data, atau update dan memodifikasi

Flat database
adalah sistem database dimana satu file database tidak dapat berhubungan secara otomatis dengan file database lainnya, sehingga perubahan pada satu file database tidak dapat secara otomatis mengubah isi pada file database lain.

The Relational Database
adalah sistem database dimana satu file dapat berhubungan secara otomatis dengan file database lain, sehingga perubahan pada satu file database secara otomatis dapat mengubah isi pada file database lainnya


Type Database
Individual: Integritas di gunakan pada satu orang
Company: Lebih umum mengoperasionalkannya atau lebih dilihat kerjasam antar file di organisasinya

Distributed: Seperti data company, tapi dimasukan data geografidan akses sudah dengan database server
Proprietary: Informasi penggunaan atau data bank yang dapat diperoleh dengan kriteria yang lebih luas

STRUKTUR DATA

File, Record, Field
Sebuah File merupakan kumpulan dari record record yang mempunyai field yang saling keterhubungan/relasional contohnya file tentang Identitas pasien.
File Pasien.DBF
No_MR Nama Pasien Alamat Tgl_Kunjungan1 Tgl_Kunjungan
02 – 11 – 99 RR.Prameswari Jl. Sukun 12-03-99 12-03-99

No_MR Nama Pasien Alamat Tgl_Kunjungan1 Tgl_Kunjungan
Field Field Field Field Field

Jika hanya No_MR seorang pasien yang berisi 02-11-99 atau hanya satu bagian lain dari seorang pasien tanpa bagian lain maka disebut Field

Atribut dan Entity

Atribut adalah nama panggilan dari satu field seorang pasien pada sebuah record dalam suatu file database

Entity adalah nilai atau isi dari suatu field yang mempunyai atribut yang sama
No_MR Nama Pasien Alamat Tgl_Kunjungan1 Tgl_Kunjungan
02 – 11 – 99 /Entity RR.Prameswari/Entity Jl. Sukun/Entity 12-03-99/Entity 12-03-99/Entity
Jadi Entity dari No_MR adalah 02 – 11 – 99 dan seterusnya
Jadi Entity dari Nama Pasien adalah RR. Prameswari dan seterusnya
Dan Atribut dari 02 – 11 – 99 adalah No_MR

Sistem Manajemen Basis Data Rumah Sakit
Untuk mengelola Data Base sebuah rumah sakit sebaiknya kita harus mengetahui jenis data yang ada di rumah sakit secara garis besar untuk bagian-bagian tertentu akan mengelola data dengan jenis tertentu seperti untuk rumah sakit mempunyai 2 jenis data yaitu data medis dan data umum. Data umum terbagi atas data keuangan, data administrasi dan data manajemen. Data medis terdiri dari data tentang tindakan pengobatan, data pelayanan kesehatan, data laboratorium dan lainnya yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan pasien.
Hingga untuk mengetahui DBMS dari rumah sakit maka harus berpangkal dari sebuah data base inti atau disebut Core Data Base.

Contoh ;
Untuk Data Base Rekam Medis maka Corenya adalah Data Base File Identitas Pasien yang harus berisi sekurang-kurangnya :
1.Nama pasien
2.Nomor Rekam Medis
3.Tanggal Kunjungan Pertama
4.Tanggal Kunjungan
5.Alamat
6.Nama Keluarga
Dst
Sebuah nomor rekam medis harus unik karena akan di pakai hanya oleh seorang pasien selama hidupnya dirumah sakit tersebut hingga dapat menghindari (eliminasi) terjadinya kerangkapan data (Data Redudancy). Hal ini merupakan bagian dari DBMS.


Sistem Manajemen Basis Data Rumah Sakit
Hospital Data Base Management System
Untuk mengelola Data Base sebuah rumah sakit sebaiknya kita harus mengetahui jenis data yang ada di rumah sakit secara garis besar dan untuk bagian-bagian tertentu akan mengelola data dengan jenis tertentu seperti untuk rumah sakit yang mempunyai 2 jenis data yaitu data medis dan data umum. Data umum(nonmedis) terdiri atas data keuangan, data administrasi dan data manajemen. Data medis terdiri dari data tentang tindakan pengobatan, data pelayanan kesehatan, data laboratorium dan lainnya yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan pasien.
Hingga untuk mengetahui DBMS dari rumah sakit maka harus berpangkal dari sebuah data base inti atau disebut Core Data Base. Contoh ; File data base identitas pasien.

SCREENING

SCREENING
Screening atau penyaringan kasus adalah cara untuk mengidentifikasi penyakit yang belum tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat dengan cepat memisahkan antara orang yang mungkin menderita penyakit dengan orang yang mungkin tidak menderita.

TUJUAN SCREENING :
  1. Deteksi dini penyakit tanpa gejala atau dengan gejala tidak khas terhadap orang- orang yang tampak sehat, tetapi mungkin menderita penyakit, yaitu orang yang mempunyai resiko tinggi terkena penyakit (Population at risk).
  2. Dengan ditemukan penderita tanpa gejala dapat dilakukan pengobatan secara tuntas sehingga tidak membahayakan dirinya atau lingkungan dan tidak menjadi sumber penularan penyakit.

SASARAN
Sasaran penyaringan adalah penyakit kronis seperti :
  • Infeksi Bakteri (Lepra, TBC dll.)
  • Infeksi Virus (Hepatitis)
  • Penyakit Non-Infeksi : (Hipertensi, Diabetes mellitus, Jantung Koroner, Ca Serviks, Ca Prostat, Glaukoma)
  • HIV-AIDS

PROSES PENYARINGAN
Proses pelaksanaan sceening adalah :
  1. Tahap 1 : melalukan pemeriksaan terhadap kelompok penduduk yang dianggap mempunyai resiko tinggi menderita penyakit.
  • Apabila hasil negatif, dianggap orang tersebut tidak menderita penyakit.
  • Apabila hasil positif dilakukan pemeriksaan tahap 2
2. Tahap 2 : pemeriksaan diagnostik
  • Hasilnya positif maka dianggap sakit dan mendapat pengobatan.
  • Hasilnya negatif maka dianggap tidak sakit (dilakukan pemeriksaan ulang secara periodik).
SENSITIVITAS
Sensitivitas (sensitivity) : kemampuan suatu tes untuk mengidentifikasi individu dengan tepat, dengan hasil tes positif dan benar sakit.
Sensitivitas = a/a+c

SPESIFISITAS
Spesifisitas (specificity) : kemampuan suatu tes untuk mengidentifikasi individu dengan tepat, dengan hasil negatif dan benar tidak sakit.
Spesivisitas = d/b+d

POSITIVE PREDICTIVE VALUE (PPV)
Persentase pasien yang menderita sakit dengan hasil test Positive.
PPV = a/a+b

NEGATIVE PREDICTIVE VALUE (NPV)
Persentase pasien yang tidak menderita sakit dengan hasil test negative.
NPV = d/c+d

SURVEILANS

  • Menurut WHO : Suatu proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara sistematis, terus menerus dan penyebarluasan informasi kepada pihak terkait untuk melakukan tindakan.
  • Menurut CDC (Center of Disease Control) : pengumpulan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara sistematis dan terus menerus, yang diperlukan untuk perencanaan, implementasi dan evaluasi upaya kesehatan masyarakat, dipadukan dengan diseminasi data secara tepat waktu kepada pihak-pihak yang perlu mengetahuinya

TUJUAN :
  1. Memprediksi dan mendeteksi dini epidemi (outbreak)
  2. Memonitor, mengevaluasi, dan memperbaiki program pencegahan dan pengendalian penyakit,
  3. Memasok informasi utk penentuan prioritas, pengambilan kebijakan, perencanaan, implementasi dan alokasi sumber daya kesehatan.
  4. Monitoring kecenderungan (Tren) penyakit endemis dan mengestimasi dampak penyakit di masa mendatang.
  5. Mengidentifikasi kebutuhan riset dan investigasi lebih lanjut.

LINGKUP :
  1. Epidemic
  2. Penyakit infeksi (Penyakit Menular)
  3. Penyakit Tidak Menular
  4. Health Services Problem.
  5. Population Problem.
  6. Environment Problem

SUMBER DATA (WHO) :
  1. Data Mortalitas (kematian)
  2. Data Morbiditas (Kesakitan)
  3. Data epidemik
  4. Laporan penggunaan laboratorium (hasil test lab.)
  5. Laporan investigasi kasus secara individual
  6. Laporan investigasi epidemik (penyelidikan wabah)
  7. Survei khusus (register penyakit, survei serologis)
  8. Informasi binatang sebagai reservoir dan vektor.
  9. Data demografik
  10. Data lingkungan.

MANFAAT & KEGUNAAN :
  1. Mempelajari pola kejadian penyakit dan penyakit potensial pada populasi sehingga dapat efektif dalam investigasi, controling dan pencegahan penyakit di populasi.
  2. Mempelajari riwayat alamiah penyakit, spektrum klinik dan epidemiologi penyakit (siapa, kapan dan dimana terjadinya, serta keterpaparan faktor resiko)
  3. Menyediakan basis data yang dapat digunakan untuk memperkirakan tindakan pencegahan dan kontrol dalam pengembangan dan pelaksanaan.

KEGIATAN RUTIN UNIT SURVEILANS :
a) Melaksanakan kegiatan surveilans
  • Pengumpulan data
  • Pengolahan dan penyajian
  • Analisis dan interpretasi
  • Penyebarluasan informasi dan rekomendasi
b) Penanggulangan KLB :
  • SKD KLB
  • Penyelidikan dan penanggulangan KLB
c) Pengembangan sistem surveilans termasuk
pengembangan jaringan informasi
d) Koordinasi kegiatan surveilans : lintas program dan lintas sektoral

JENIS SURVEILANS :

a) Surveilans aktif
  • Pengamatan kasus dilakukan secara langsung ke lapangan.
  • Hasil yang diperoleh lengkap dan jauh lebih baik
  • Dibutuhkannya dana dan tenaga khusus.
b) Surveilans pasif
  • Pengamatan kasus dilakukan secara tidak langsung, yaitu melalui laporan.
  • Hasil yang diperoleh kurang lengkap.

ALASAN DILAKSANAKAN SURVEILANS :
Surveilans beralasan untuk dilakukan jika dilatari kondisi :
  1. Beban penyakit (burden of disease) tinggi, sehingga merupakan masalah penting kesehatan masyarakat.
  2. Terdapat tindakan kesehatan masyarakat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.
  3. Data relevan mudah diperoleh
  4. Hasil yang diperoleh sepadan dengan upaya yang dilakukan (pertimbangan efisien).

SURVEILANS

  • Menurut WHO : Suatu proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara sistematis, terus menerus dan penyebarluasan informasi kepada pihak terkait untuk melakukan tindakan.
  • Menurut CDC (Center of Disease Control) : pengumpulan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara sistematis dan terus menerus, yang diperlukan untuk perencanaan, implementasi dan evaluasi upaya kesehatan masyarakat, dipadukan dengan diseminasi data secara tepat waktu kepada pihak-pihak yang perlu mengetahuinya

TUJUAN :
  1. Memprediksi dan mendeteksi dini epidemi (outbreak)
  2. Memonitor, mengevaluasi, dan memperbaiki program pencegahan dan pengendalian penyakit,
  3. Memasok informasi utk penentuan prioritas, pengambilan kebijakan, perencanaan, implementasi dan alokasi sumber daya kesehatan.
  4. Monitoring kecenderungan (Tren) penyakit endemis dan mengestimasi dampak penyakit di masa mendatang.
  5. Mengidentifikasi kebutuhan riset dan investigasi lebih lanjut.

LINGKUP :
  1. Epidemic
  2. Penyakit infeksi (Penyakit Menular)
  3. Penyakit Tidak Menular
  4. Health Services Problem.
  5. Population Problem.
  6. Environment Problem

SUMBER DATA (WHO) :
  1. Data Mortalitas (kematian)
  2. Data Morbiditas (Kesakitan)
  3. Data epidemik
  4. Laporan penggunaan laboratorium (hasil test lab.)
  5. Laporan investigasi kasus secara individual
  6. Laporan investigasi epidemik (penyelidikan wabah)
  7. Survei khusus (register penyakit, survei serologis)
  8. Informasi binatang sebagai reservoir dan vektor.
  9. Data demografik
  10. Data lingkungan.

MANFAAT & KEGUNAAN :
  1. Mempelajari pola kejadian penyakit dan penyakit potensial pada populasi sehingga dapat efektif dalam investigasi, controling dan pencegahan penyakit di populasi.
  2. Mempelajari riwayat alamiah penyakit, spektrum klinik dan epidemiologi penyakit (siapa, kapan dan dimana terjadinya, serta keterpaparan faktor resiko)
  3. Menyediakan basis data yang dapat digunakan untuk memperkirakan tindakan pencegahan dan kontrol dalam pengembangan dan pelaksanaan.

KEGIATAN RUTIN UNIT SURVEILANS :
a) Melaksanakan kegiatan surveilans
  • Pengumpulan data
  • Pengolahan dan penyajian
  • Analisis dan interpretasi
  • Penyebarluasan informasi dan rekomendasi
b) Penanggulangan KLB :
  • SKD KLB
  • Penyelidikan dan penanggulangan KLB
c) Pengembangan sistem surveilans termasuk
pengembangan jaringan informasi
d) Koordinasi kegiatan surveilans : lintas program dan lintas sektoral

JENIS SURVEILANS :

a) Surveilans aktif
  • Pengamatan kasus dilakukan secara langsung ke lapangan.
  • Hasil yang diperoleh lengkap dan jauh lebih baik
  • Dibutuhkannya dana dan tenaga khusus.
b) Surveilans pasif
  • Pengamatan kasus dilakukan secara tidak langsung, yaitu melalui laporan.
  • Hasil yang diperoleh kurang lengkap.

ALASAN DILAKSANAKAN SURVEILANS :
Surveilans beralasan untuk dilakukan jika dilatari kondisi :
  1. Beban penyakit (burden of disease) tinggi, sehingga merupakan masalah penting kesehatan masyarakat.
  2. Terdapat tindakan kesehatan masyarakat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.
  3. Data relevan mudah diperoleh
  4. Hasil yang diperoleh sepadan dengan upaya yang dilakukan (pertimbangan efisien).

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Crazy - Anggun