KAUM PRIA JUGA BISA TERINFEKSI VISRUS HPV
Susu Kolostrum Skim Alami IgG Plus Dari Smart Naco Indonesia - Kamis, 24 Juli 2008
My mother, then my mother, till the last day of my life.. Love from the first moment of my life And her concern is mine
our hope in my heart is the rarest treasure
n the lucidity of a solemn silence
So long as the heart doth pulsate and beat,
Lebih dari 33.000 orang melakukan aksi bunuh diri di Jepang tahun lalu. Angka bunuh diri melampaui 30.000 jiwa dalam sepuluh tahun berturut-turut meskipun pemerintah Jepang melakukan kampanye untuk mengurangi salah satu kasus bunuh diri tertinggi di dunia itu.
Laporan yang dikeluarkan Badan Kepolisian Nasional Jepang Kamis (19/6) menunjukkan 33.093 mengakhiri hidup mereka sendiri pada tahun 2007. Angka tersebut merupakan terbesar kedua dari rekor bunuh diri yang mencapai sebesar 34.427 jiwa pada tahun 2003.
Sebagian besar alasan dari kasus bunuh diri adalah terlilit hutang, masalah keluarga, depresi serta masalah kesehatan lainnya. Terdapat lonjakan juga jumlah kasus bunuh diri yang menggunakan pemakaian gas sulfida hidrogen toksik yang dibuat dari deterjen.
Metode bunuh diri dengan deterjen atau memproduksi racun dengan perlengkapan rumah tangga ini ternyata telah menyebar melalui pesan di Internet. Polisi telah mendesak provider pelayanan internet agar menghapus instruksi untuk memproduksi gas beracun tersebut dari sejumlah situs.
Jumlah kasus bunuh diri melonjak tajam di Jepang setelah gejolak ekonomi tahun 1980an yang mengakibatkan sebagian besar warga Jepang kehilangan pekerjaan dan terlilit utang. Angka bunuh diri di kalangan mereka yang berusia 60 tahun atau lebih meningkat 9 persen menjadi sekitar 12.100 kasus tahun lalu. Sementara kasus bunuh diri pada kalangan remaja sedikit mengalami penurunan.
Mulai Januari hingga Mei 2008, hampir 520 orang melakukan aksi bunuh diri dengan menggunakan gas sulfida hidrogen. Hanya terdapat 30 kasus yang mencakup penggunaan gas tersebut pada periode yang sama pada tahun 2007.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, tingkat bunuh diri di Jepang terbilang terbesar kedua di kelompok 8 negara industri maju G8 setelah Rusia. Pada bulan Juni 2007, pemerintah Jepang berjanji mengurangi tingkat bunuh diri lebih dari 20 persen menjelang tahun 2016.
Namun, para pekerja sosial Jepang menyebut masalah ini kompleks dan memerlukan waktu untuk mencari solusinya. Perfektur Akita di Jepang utara yang merupakan wilayah dengan angka kasus bunuh diri tertinggi di Jepang dalam 13 tahun terakhir telah menjalankan program pencegahan kasus bunuh diri sejak tahun 2000.
“Kami bersyukur pemerintah memikirkan cara untuk menekan angka kasus bunuh diri, namun mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” kata Yukiko Nishihara, pendiri Pusat Pencegahan Bunuh Diri Dunia Befrienders. Kasus bunuh diri tahunan di Akita yang terdiri dari sekitar 1 juta penduduk mencapai puncaknya pada tahun 2003 dengan sekitar 520 kasus sebelum turun menjadi 420 kasus pada tahun 2007.
syu tentang nomor telepon berwarna merah cukup membuat puyeng. Berita antah berantah ini muncul dan mulai ramai sekitar hari Kamis 8 Mei yang lalu. Beritanya cukup heboh meski isinya aneh dan kental aroma mistis. Toh tetap ada banyak orang yang percaya dan was-was. Paling tidak turut ‘berbaik hati’ menyampaikan pesan berantai tak bertuan ini ke mana-mana. Terbukti dengan banyaknya SMS yang masuk dan keluar terkait dengan isyu ini.
Yang belum mudeng (nyambung) dengan berita ini silakan simak 2 SMS yang beredar berikut ini:
"Kalau ada telp yang Nomor berwarna merah (0866) dan (0666) jangan diangkat karena dapat menelan jiwa. Hari ini sudah disiarkan diberita, terjadi di jakarta dan duri dan sudah terbukti. Sekarang masih di usut oleh pihak kepolisian, dugaan sementara adalah kasus pembunuhan jarak jauh melalui telepon genggam (HP) oleh dukun ilmu hitam / si penelpon adalah roh gentayangan yg mencari mangsa, harap di mengerti dan kirim semua, harap saling membantu sesama umat manusia."
atau variasi sms lainnya seperti tanpa menyebutkan digit awal no telpon warna merah.
"Klo ada yg tlpn NO BERWRN MERAH jgn diangkat krn bs MENELAN JIWA, hr ini disiarkan dibrita,tjd dijkt&duri, n SDH TERBUKTI, skrg msh diusut o/ pihak KEPOLISIAN, dugaan smntr adl kasus PEMBNHN JRK JAUH MELALUI HP o/ DUKUN ILMU HTM/si penelpon adl ROH GENTAYANGAN yg mencr MANGSA, hrp dimngrt & krm ke tmn/sdr semua, hrp slg membnt ssm umat MANUSIA."
atau SMS semisal dengan redaksi yang sedikit berbeda dan tambah bumbu lainnya. Ini cukup meresahkan, bahkan di beberapa tempat berhasil memakan korban. Namun sebenarnya bukan persis seperti ancaman yang ada dalam berita sms tsb, melainkan lebih pada kondisi kejiwanan (mental) yang menerima sms.
Berita terakhir salah satu putra Uwak Mala (salah seorang asisten istri) unfall dan diopname di RS Kesrem Lhokseumawe setelah menerima sms ini. Usut punya usut, ybs memang punya penyakit jantung. Keterkejutan membuatnya unfall, bukan sihir nomor telpon merah. Karena memang belum ada nomor tsb yang masuk, baru sekedar sms pemberitahuan. Nah lo! Cukup jahat sms iseng ini. Berita tentang korban dapat dibaca di detikinet, silakan browsing.
Ada lagi info tentang sms ngawur ini yang sempat “mematikan” kabupaten Bireuen. Bayangkan, karena termakan isyu, banyak orang dan outlet yang mematikan handphone dan menutup toko pada hari Kamis tanggal 9 Mei 2008, karena takut kalau-kalau kejadian itu benar adanya. SMS bahkan dibumbui tentang adanya korban sakit bahkan meninggal di Takengon. Keruan orang Bireuen makin paranoid. Padahal tanggal 9 adalah hari diluncurkannya tarif baru simPATI PeDe 13, juga hari dimana para BM Lhokseumawe melakukan spreading ke kota-kota di wilayah kerja graPARI Lhokseumawe. “Bagaimana mau laku pak, banyak toko yang tutup karena isyu sms ‘berhadiah’ kejang-kejang pak”. Setidaknya begitulah laporan salah seorang yang melakukan spreading produk ke Bireuen. Aneh tapi nyata.
Ada teman yang juga anggota dewan yang sempat telpon sekedar konfirmasi kebenaran hal ini. Katanya, WHO pun memperingatkan bahaya ini. Hah?! WHO turut khawatir terhadap nasib bangsa kita terkait dengan sms gak jelas ini. Yang bener aje?! WHO badan dunia dengan seabreg (banyak sekali) masalah yang dihadapi, turun untuk berpartisipasi mengingatakan bahaya ini. Luar biasa! Takhayul ini perlu diperkuat oleh badan kesehatan dunia.
Dulu ramai surat berantai -baik dikirim atau via email- yang mengatasnamakan kuncen makam Nabi Muhammad shallollohu ‘alayhi wa wwlihi wa sallam, yang isinya sepertinya benar namun ada virus TBC (Takhayul, Bid’ah dan Khurofat) di dalamnya. Sekarang tekhnologi berubah. Media yang digunakan bisa beragam termasuk hape yang murah meriah. Targetnya bisa seribusatu macam. Yang pasti tidak perlu kesusu (tergesa gesa) percaya dengan hal yang berbau mistis alias takhayul. Perlu kewaspadaan dan kearifan berfikir sebelum kita memforward sms yang seperti ini. Bahkan sebaiknya kita memberikan pencerahan terhadap orang yang mem-forward ke kita. Ini pelajaran berharga, silakan ambil hikmahnya.
Konsep hidup sehat H.L.Blum sampai saat ini masih relevan untuk diterapkan. Kondisi sehat secara holistik bukan saja kondisi sehat secara fisik melainkan juga spiritual dan sosial dalam bermasyarakat. Untuk menciptakan kondisi sehat seperti ini diperlukan suatu keharmonisan dalam menjaga kesehatan tubuh. H.L Blum menjelaskan ada empat faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Keempat faktor tersebut merupakan faktor determinan timbulnya masalah kesehatan.
Keempat faktor tersebut terdiri dari faktor perilaku/gaya hidup (life style), faktor lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya), faktor pelayanan kesehatan (jenis cakupan dan kualitasnya) dan faktor genetik (keturunan). Keempat faktor tersebut saling berinteraksi yang mempengaruhi kesehatan perorangan dan derajat kesehatan masyarakat. Diantara faktor tersebut faktor perilaku manusia merupakan faktor determinan yang paling besar dan paling sukar ditanggulangi, disusul dengan faktor lingkungan. Hal ini disebabkan karena faktor perilaku yang lebih dominan dibandingkan dengan faktor lingkungan karena lingkungan hidup manusia juga sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat.
Di zaman yang semakin maju seperti sekarang ini maka cara pandang kita terhadap kesehatan juga mengalami perubahan. Apabila dahulu kita mempergunakan paradigma sakit yakni kesehatan hanya dipandang sebagai upaya menyembuhkan orang yang sakit dimana terjalin hubungan dokter dengan pasien (dokter dan pasien). Namun sekarang konsep yang dipakai adalah paradigma sehat, dimana upaya kesehatan dipandang sebagai suatu tindakan untuk menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan individu ataupun masyarakat (SKM dan masyarakat).
Dengan demikian konsep paradigma sehat H.L. Blum memandang pola hidup sehat seseorang secara holistik dan komprehensif. Masyarakat yang sehat tidak dilihat dari sudut pandang tindakan penyembuhan penyakit melainkan upaya yang berkesinambungan dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Peranan Sarjana Kesehatan Masyarakat dalam hal ini memegang kendali dominan dibandingkan peranan dokter. Sebab hubungan dokter dengan pasien hanya sebatas individu dengan individu tidak secara langsung menyentuh masyarakat luas. Ditambah lagi kompetensi dalam memanagement program lebih dikuasai lulusan SKM sehingga dalam perkembangannya SKM menjadi ujung tombak program kesehatan di negara-negara maju.
Untuk negara berkembang seperti Indonesia justru, paradigma sakit yang digunakan. Dimana kebijakan pemerintah berorientasi pada penyembuhan pasien sehingga terlihat jelas peranan dokter, perawat dan bidan sebagai tenaga medis dan paramedis mendominasi. Padahal upaya semacam itu sudah lama ditinggalkan karena secara financial justru merugikan Negara. Anggaran APBN untuk pendanaan kesehatan di Indonesia semakin tinggi dan sebagian besar digunakan untuk upaya pengobatan seperti pembelian obat, sarana kesehatan dan pembangunan gedung. Seharusnya untuk meningkatan derajat kesehatan kita harus menaruh perhatian besar pada akar masalahnya dan selanjutnya melakukan upaya pencegahannya. Untuk itulah maka upaya kesehatan harus fokus pada upaya preventif (pencegahan) bukannya curative (pengobatan).
Namun yang terjadi anggaran untuk meningkatkan derajat kesehatan melalui program promosi dan preventif dikurangi secara signifikan. Akibat yang ditimbulkan adalah banyaknya masyarakat yang kekurangan gizi, biaya obat untuk puskesmas meningkat, pencemaran lingkungan tidak terkendali dan korupsi penggunaan askeskin. Dampak sampingan yang terjadi tersebut dapat timbul karena kebijakan kita yang keliru.
KONSEP BLUM
Semua Negara di dunia menggunakan konsep Blum dalam menjaga kesehatan warga negaranya. Untuk Negara maju saat ini sudah fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sehingga asupan makanan anak-anak mereka begitu dijaga dari segi gizi sehingga akan melahirkan keturunan yang berbobot. Kondisi yang berseberangan dialami Indonesia sebagai Negara agraris, segala regulasi pemerintah tentang kesehatan malah fokus pada penanggulangan kekurangan gizi masyarakatnya. Bahkan dilematisnya banyak masyarakat kota yang mengalami kekurangan gizi. Padahal dari hasil penelitian membuktikan wilayah Indonesia potensial sebagai lahan pangan dan perternakan karena wilayahnya yang luas dengan topografi yang mendukung. Ada apa dengan pemerintah?. Satu jawaban yang pasti seringkali dalam analisis kesehatan pemerintah kurang mempertimbangkan pendapat ahli kesehatan masyarakat (public health) sehingga kebijakan yang dibuat cuma dari sudut pandang kejadian sehat-sakit.
Dalam konsep Blum ada 4 faktor determinan yang dikaji, masing-masing faktor saling keterkaitan berikut penjelasannya :
1. Perilaku masyarakat
Perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan sangat memegang peranan penting untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Hal ini dikarenakan budaya hidup bersih dan sehat harus dapat dimunculkan dari dalam diri masyarakat untuk menjaga kesehatannya. Diperlukan suatu program untuk menggerakan masyarakat menuju satu misi Indonesia Sehat 2010. Sebagai tenaga motorik tersebut adalah orang yang memiliki kompetensi dalam menggerakan masyarakat dan paham akan nilai kesehatan masyarakat. Masyarakat yang berperilaku hidup bersih dan sehat akan menghasilkan budaya menjaga lingkungan yang bersih dan sehat.
Pembuatan peraturan tentang berperilaku sehat juga harus dibarengi dengan pembinaan untuk menumbuhkan kesadaran pada masyarakat. Sebab, apabila upaya dengan menjatuhkan sanksi hanya bersifat jangka pendek. Pembinaan dapat dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tokoh-tokoh masyarakat sebagai role model harus diajak turut serta dalam menyukseskan program-program kesehatan.
2. Lingkungan
Berbicara mengenai lingkungan sering kali kita meninjau dari kondisi fisik. Lingkungan yang memiliki kondisi sanitasi buruk dapat menjadi sumber berkembangnya penyakit. Hal ini jelas membahayakan kesehatan masyarakat kita. Terjadinya penumpukan sampah yang tidak dapat dikelola dengan baik, polusi udara, air dan tanah juga dapat menjadi penyebab. Upaya menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab semua pihak untuk itulah perlu kesadaran semua pihak.
Puskesmas sendiri memiliki program kesehatan lingkungan dimana berperan besar dalam mengukur, mengawasi, dan menjaga kesehatan lingkungan masyarakat. namun dilematisnya di puskesmas jumlah tenaga kesehatan lingkungan sangat terbatas padahal banyak penyakit yang berasal dari lingkungan kita seperti diare, demam berdarah, malaria, TBC, cacar dan sebagainya.
Disamping lingkungan fisik juga ada lingkungan sosial yang berperan. Sebagai mahluk sosial kita membutuhkan bantuan orang lain, sehingga interaksi individu satu dengan yang lainnya harus terjalin dengan baik. Kondisi lingkungan sosial yang buruk dapat menimbulkan masalah kejiwaan.
3. Pelayanan kesehatan
Kondisi pelayanan kesehatan juga menunjang derajat kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan yang berkualitas sangatlah dibutuhkan. Masyarakat membutuhkan posyandu, puskesmas, rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya untuk membantu dalam mendapatkan pengobatan dan perawatan kesehatan. Terutama untuk pelayanan kesehatan dasar yang memang banyak dibutuhkan masyarakat. Kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di bidang kesehatan juga mesti ditingkatkan.
Puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat sangat besar perananya. sebab di puskesmaslah akan ditangani masyarakat yang membutuhkan edukasi dan perawatan primer. Peranan Sarjana Kesehatan Masyarakat sebagai manager yang memiliki kompetensi di bidang manajemen kesehatan dibutuhkan dalam menyusun program-program kesehatan. Utamanya program-program pencegahan penyakit yang bersifat preventif sehingga masyarakat tidaka banyak yang jatuh sakit.
Banyak kejadian kematian yang seharusnya dapat dicegah seperti diare, demam berdarah, malaria, dan penyakit degeneratif yang berkembang saat ini seperti jantung karoner, stroke, diabetes militus dan lainnya. penyakit itu dapat dengan mudah dicegah asalkan masyarakat paham dan melakukan nasehat dalam menjaga kondisi lingkungan dan kesehatannya.
4. Genetik
Seperti apa keturunan generasi muda yang diinginkan ???. Pertanyaan itu menjadi kunci dalam mengetahui harapan yang akan datang. Nasib suatu bangsa ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Oleh sebab itu kita harus terus meningkatkan kualitas generasi muda kita agar mereka mampu berkompetisi dan memiliki kreatifitas tinggi dalam membangun bangsanya.
Dalam hal ini kita harus memperhatikan status gizi balita sebab pada masa inilah perkembangan otak anak yang menjadi asset kita dimasa mendatang. Namun masih banyak saja anak Indonesia yang status gizinya kurang bahkan buruk. Padahal potensi alam Indonesia cukup mendukung. oleh sebab itulah program penanggulangan kekurangan gizi dan peningkatan status gizi masyarakat masih tetap diperlukan. Utamanya program Posyandu yang biasanya dilaksanakan di tingkat RT/RW. Dengan berjalannya program ini maka akan terdeteksi secara dini status gizi masyarakat dan cepat dapat tertangani.
Program pemberian makanan tambahan di posyandu masih perlu terus dijalankan, terutamanya daeraha yang miskin dan tingkat pendidikan masyarakatnya rendah. Pengukuran berat badan balita sesuai dengan kms harus rutin dilakukan. Hal ini untuk mendeteksi secara dini status gizi balita. Bukan saja pada gizi kurang kondisi obesitas juga perlu dihindari. Bagaimana kualitas generasi mendatang sangat menentukan kualitas bangas Indonesia mendatang.
Tetanus is an infectious disorder characterized by increased muscle tone and spasms caused by the release of the neurotoxin tetanospasmin by Clostridium tetani following inoculation into a human host. Tetanus occurs in several clinical forms, including generalized, cephalic, localized, and neonatal disease.
Most cases of tetanus are caused by direct contamination of wounds with clostridial spores. Wounds with low oxidation-reduction potential, such as those with dead or devitalized tissue, a foreign body, or active infection, are ideal for germination of the spores and release of toxin. Infection by C tetani results in a benign appearance at the portal of entry because of its inability to evoke an inflammatory reaction (unless co-infection with other organisms develops).
Tetanospasmin, a zinc metalloprotease, is released in the wound and binds to the peripheral motor neuron terminal, enters the axon, and, via retrograde intraneuronal transport, reaches the nerve cell body in the brainstem and spinal cord. The toxin migrates across the synapse to presynaptic terminals where it blocks the release of the inhibitory neurotransmitters glycine and gamma-aminobutyric acid (GABA) by cleaving proteins crucial for the proper functioning of the synaptic vesicle release apparatus. One of these important proteins is synaptobrevin. This diminished inhibition results in an increase in the resting firing rate of the motor neuron, which is responsible for the observed muscle rigidity.
The lessened activity of reflexes limits the polysynaptic spread of impulses (a glycinergic activity). Agonists and antagonists may be recruited rather than inhibited, with consequent production of spasms. Loss of inhibition may also affect preganglionic sympathetic neurons in the lateral gray matter of the spinal cord and produce sympathetic hyperactivity and high levels of circulating catecholamines. Finally, tetanospasmin can block neurotransmitter release at the neuromuscular junction, causing weakness and paralysis.
Localized tetanus develops when only the nerves supplying the affected muscle are involved. Generalized tetanus develops when the toxin released at the wound spreads through the lymphatics and blood to multiple nerve terminals. The blood-brain barrier prevents direct entry of toxin to the CNS.
Neonatal tetanus is rare. Tetanus affects nonimmunized persons, partially immunized persons, or fully immunized individuals who do not maintain adequate immunity with periodic booster doses. The risk for development of tetanus and for the most severe form of the disease is highest in the elderly population. Most cases follow an acute injury, such as a puncture wound, a laceration, or an abrasion.
Tetanus can be acquired outdoors as well as indoors. The injury is usually trivial, and, often, no initial medical treatment is sought. Tetanus can also develop as a complication of some chronic conditions, such as decubitus ulcers, abscesses, and gangrene. Finally, it may complicate burns, frostbite, middle ear infections, surgery, abortion, childbirth, and intravenous or subcutaneous drug use. Fewer than 50 cases of tetanus per year have been recorded since 1995. The infection has not been transmitted from person to person.
C tetani is found worldwide in soil, on inanimate objects, in animal feces, and, occasionally, in human feces. The disease is common in areas where soil is cultivated, in rural areas, in warm climates, during summer months, and among males. In countries without a comprehensive immunization program, tetanus predominantly develops in neonates and young children
RIWAYAT ALAMIAH PERJALANAN PENYAKIT
EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF
EPIDEMIOLOGI ANALITIK
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR
WABAH
Basis Data
SCREENING